NARASI-TIMUR.ONLINE, TAKALAR – Dinas Pertanian Kabupaten Takalar menegaskan bahwa penentuan volume bahan bakar minyak (BBM) bagi petani tidak ditetapkan secara manual oleh instansi, melainkan melalui sistem aplikasi berbasis digital Silvia X-Star.
Hal itu disampaikan Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pertanian Kabupaten Takalar, Muh Ilham Daeng Siala, saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian di Jalan Fitrah, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kamis (2/4/2026).
Saat kunjungan berlangsung, suasana di kantor Dinas Pertanian tampak cukup ramai. Sekitar 20 petani terlihat mengantre di area pelayanan, sebagian duduk menunggu giliran sambil memegang berkas, sementara lainnya berdiri di depan loket untuk melakukan pengurusan barcode BBM.
Beberapa petani tampak berdiskusi ringan satu sama lain, membicarakan kebutuhan BBM untuk alat pertanian mereka, sementara dua petugas dinas terlihat sibuk melayani proses input data ke dalam sistem Silvia X-Star.
Antrean berlangsung tertib, dengan petani secara bergiliran dipanggil untuk memastikan data alat pertanian mereka sesuai sebelum dimasukkan ke dalam aplikasi.
Di sisi lain, beberapa petani lanjut usia tampak didampingi keluarga saat mengurus administrasi, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap sistem baru ini.
Ilham menjelaskan, mekanisme pengaturan BBM seperti solar dan pertalite kini sepenuhnya mengacu pada perhitungan otomatis dalam aplikasi Silvia X-Star.
Menurutnya, dinas hanya berperan melakukan input data teknis alat pertanian yang digunakan oleh petani, tanpa memiliki kewenangan menentukan besaran kuota BBM.
“Jadi kalau terkait pembatasan BBM itu, kami di Dinas sesuai dengan aplikasi Silvia X-Star. Jadi bukan Dinas yang menjadi penentu bahwasanya petani ini mendapat jatah Solar atau Pertalite, tapi aplikasi Silvia X-Star,” jelas Ilham.
Ia mencontohkan, mesin pompa air dengan kapasitas 3 inci dan tenaga 5 Horse Power (HP), yang digunakan selama 12 jam per hari dalam 26 hari kerja, akan langsung menghasilkan jumlah kebutuhan BBM dalam sistem.
“Ketika kita sudah input itu, enter, langsung dengan sendirinya aplikasi yang memberikan volumenya,” ujarnya.
Begitu data dimasukkan, lanjutnya, aplikasi akan secara otomatis menghitung dan menampilkan volume BBM yang direkomendasikan sesuai kebutuhan alat tersebut.
“Jadi itu saya bilang, mesin pompa air itu HP-nya 5 HP, lama digunakan dalam satu hari 12 jam selama 26 hari, langsung dengan sendirinya volume muncul,” katanya.
Ilham menegaskan, tidak ada perubahan signifikan dalam volume BBM yang diterima petani meski kebijakan pembatasan diterapkan.
Menurutnya, angka yang keluar dari aplikasi tetap sama, namun realisasi di lapangan bergantung pada pihak SPBU dan kebutuhan petani itu sendiri.
“Oh tidak ada, tetap sama. Jadi tidak ada yang membedakan yang sekarang. Pembacaan saya terkait pembatasan ini, tetap aplikasi Silvia X-Star ini tidak ada perubahan, tapi SPBU yang menentukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, rekomendasi volume yang dikeluarkan aplikasi bukan berarti harus diambil seluruhnya oleh petani.
“Jadi seumpama kita print dalam satu bulan itu Pertalite 460-an liter. Nah, sampai di sana SPBU yang mengatur dia mau kasih berapa dulu. Jadi kita hanya merekomendasikan,” katanya.
Lebih lanjut, Ilham mengatakan bahwa pihak SPBU menjadi pihak yang paling mengetahui realisasi penyaluran BBM kepada petani.
“Yang tahu bilang segini diambil adalah SPBU,” ujarnya.
Pasalnya, transaksi pengambilan BBM sepenuhnya terjadi di SPBU, meskipun tetap mengacu pada barcode dan rekomendasi dari aplikasi.
Namun demikian, sistem tetap memiliki mekanisme kontrol untuk memastikan distribusi tidak melebihi batas.
“Tapi tetap ada kontrol. Ada memang kertas kontrol dari satu paket ini dengan aplikasi Silvia X-Star. Oh, tanggal segini bapak datang mengambil sejumlah ini, ada,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa volume BBM tidak bisa melebihi batas yang telah ditentukan oleh sistem.
“Dan tidak bisa melebihi dari rekomendasi itu, sesuai dengan kebutuhan alat yang dipakai,” tegasnya.
Ilham juga menekankan bahwa faktor utama penentu volume BBM adalah spesifikasi alat, khususnya kapasitas mesin atau Horse Power (HP).
“Intinya semakin banyak itu karena semakin besar HP-nya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa luas lahan tidak menjadi variabel dalam penentuan volume BBM di aplikasi Silvia X-Star.
“Luas lahan tidak. Jadi penentuannya itu item-item apa yang di-input di Silvia X-Star itu,” katanya.
Sementara itu, salah satu petani asal Malewaya, Kelurahan Malewang, Muh Nasir Daeng Rewa (71), mengaku telah mengurus barcode untuk kebutuhan BBM alat pertaniannya.
Ia menggunakan traktor roda empat jenis Harvia dengan kebutuhan solar mencapai 2.787 liter.
“Sudah saya urus barcode-ku untuk traktor roda empat, kebutuhannya itu sekitar 2.787 liter solar.
Jadi tinggal ikut aturan di aplikasi sama pengambilan di SPBU,” ujar Nasir.
Nasir menilai sistem barcode melalui aplikasi Silvia X-Star cukup membantu petani dalam mendapatkan BBM sesuai kebutuhan alat.
“Menurut saya bagus ini sistem, karena jelas hitungannya. Tidak asal-asalan, sesuai kebutuhan mesin,” tambahnya.
Di sisi lain, Ilham mengakui pihaknya belum dapat memberikan evaluasi terkait tren peningkatan penggunaan BBM per musim.
Hal itu dikarenakan sistem ini baru berjalan efektif dalam dua pekan terakhir.
“Kalau karena kami baru dua minggu ini menangani, kami belum bisa memberikan komentar karena belum ada hasil dari yang kita keluarkan,” ujarnya.
Namun demikian, ia memastikan bahwa sistem ini dirancang untuk memberikan transparansi dan akuntabilitas dalam distribusi BBM bagi petani.
Sejak diluncurkan pada 18 Maret 2026, tercatat sebanyak 1.002 petani di Kabupaten Takalar telah berhasil mendapatkan barcode sebagai syarat penebusan BBM.
Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya kesadaran petani terhadap sistem digital ini.
Pemerintah Kabupaten Takalar berharap penerapan aplikasi Silvia X-Star dapat mencegah penyalahgunaan BBM sekaligus memastikan distribusi tepat sasaran.
Selain itu, sistem ini juga diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan BBM di sektor pertanian.
Dengan mekanisme berbasis data teknis, kebutuhan energi petani dapat dihitung lebih akurat dan adil.

