NARASI-TIMUR.ONLINE, TAKALAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Takalar mencatat angin kencang masih menjadi bencana dengan dampak terbesar sepanjang 2025 hingga pertengahan 2026.
Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Takalar, Herlina, didampingi Fungsional Analis Kebencanaan, Heris Muhlis, usai sosialisasi Smart Respons Terintegrasi (SRI) Takalar, Selasa (7/7/2026).
Herlina mengungkapkan, sepanjang 2025 sebanyak 376 kepala keluarga (KK) atau 1.972 jiwa terdampak berbagai bencana. Kerusakan meliputi 329 rumah rusak ringan, 53 rusak sedang, 51 rusak berat, serta lima korban meninggal dunia.
“Angin kencang menjadi bencana dengan dampak terbesar, disusul banjir, abrasi pantai, kebakaran rumah, dan kasus orang tenggelam,” ujarnya.
Memasuki pertengahan 2026, BPBD mencatat 268 KK atau 751 jiwa terdampak bencana. Dari jumlah tersebut, 237 KK atau 704 jiwa terdampak angin kencang.
BPBD juga menyiapkan langkah mitigasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino melalui penyediaan air bersih serta koordinasi dengan TNI, Polri, PDAM, dan instansi terkait.
“Hasil asesmen lapangan menjadi dasar penyaluran bantuan, baik material bangunan maupun logistik bagi warga terdampak,” kata Herlina.
Sementara itu, Fungsional Analis Kebencanaan BPBD Takalar, Heris Muhlis, mengatakan distribusi air bersih dilakukan berdasarkan permohonan pemerintah desa dan hasil verifikasi lapangan. Wilayah Laikang, Mappakasunggu, dan Polongbangkeng Selatan menjadi daerah yang paling sering menerima bantuan saat musim kemarau.

