NARASI-TIMUR.ONLINE, TAKALAR – Sanggar Seni Ataraxia menggelar proses casting atau audisi pemeran untuk film terbaru berjudul Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar.
Kegiatan tersebut merupakan salah satu tahapan awal produksi film yang didukung melalui program Bantuan Dana Indonesiana Tahun 2026 dari Kementerian Kebudayaan.
Casting digelar untuk menjaring talenta-talenta lokal yang dinilai memiliki kemampuan seni peran sekaligus memahami kultur masyarakat Makassar.
Antusiasme masyarakat mengikuti audisi tersebut cukup tinggi.
Sejak pendaftaran dibuka secara daring, sekitar 50 peserta mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi.
Peserta yang dinyatakan lolos seleksi administrasi kemudian mengikuti tahapan casting secara langsung.
Proses pencarian pemeran dipimpin langsung oleh sutradara film Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar, Amin DB.
Ia didampingi Ryaasanti Fany Faisal, praktisi seni lulusan Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Keduanya menilai kemampuan akting, ekspresi, penghayatan karakter, hingga kecocokan peserta dengan tokoh yang akan diperankan.
Amin DB mengatakan film tersebut mengangkat kisah perjuangan dan mimpi perempuan Makassar.
Menurutnya, pemilihan pemeran menjadi salah satu tahapan penting agar cerita yang diangkat dapat tersampaikan secara autentik kepada penonton.
“Film ini membawa narasi yang kuat tentang perjuangan dan mimpi perempuan Makassar. Melalui casting langsung ini, kami ingin menemukan karakter-karakter yang tidak hanya pandai berakting, tetapi juga mampu mengalirkan jiwa, rasa, dan kultur Makassar yang autentik ke dalam layar lebar,” ujar Amin DB.
Ia berharap proses casting mampu melahirkan aktor dan aktris yang dapat menghidupkan karakter sesuai dengan naskah yang telah disiapkan.
Film Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar menjadi salah satu karya yang memperoleh dukungan Bantuan Dana Indonesiana Tahun 2026 dari Kementerian Kebudayaan.
Dukungan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi pelaku seni dan perfilman daerah untuk terus berkarya.
Selain itu, bantuan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat ekosistem perfilman di daerah agar semakin berkembang.
Sanggar Seni Ataraxia menilai produksi film lokal dapat menjadi media untuk memperkenalkan budaya Makassar kepada masyarakat yang lebih luas.
Film ini juga diharapkan menyajikan perspektif perempuan Makassar dalam balutan cerita yang edukatif dan bernilai budaya.
Setelah seluruh tahapan casting selesai, tim produksi akan melanjutkan proses pembacaan naskah atau reading bersama para pemeran yang terpilih.
Selanjutnya, produksi akan memasuki tahap persiapan teknis sebelum pelaksanaan syuting utama dimulai.
Pihak Sanggar Seni Ataraxia mengajak masyarakat mengikuti perkembangan produksi Film Tulolo: Mimpi Perempuan Makassar melalui kanal media sosial resmi mereka.

